Agustusan

0 Comment

Nyanyi dulu…… “Tujuh belas Agustus tahun empat limaaa…. itulah hari kemerdekaan kitaa… Hari merdekaaaa Nusa dan Bangsa…. “

Nah tiap moment agustusan pasti selalu dirayakan dengan even even yang meriah, Kalau tidak meriah dikatakan “Luntur Nasionalismenya”

Dulu dan sampai sekarang “tujuhbelasan” biasanya diramaikan dengan acara lomba2 unik di kampung kampung seperti lomba panjat pinang, makan kerupuk, balap karung dan sebagainya. Ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan seru.

Tapi yang saya perhatikan disekitar saya justru terkadang membuat saya mengelus dada. Di Jawa Timur khususnya kota saya, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Setiap malam tujuh belas (tgl 16 malam harinya) pasti ada acara “BARI’AN” yakni acara kumpul2 sesama warga RT di jalan atau pelataran lingkungan RT setempat. Mereka membawa jajanan atau makanan alakadarnya untuk berkumpul dan berdoá dan bersyukur atas kemerdekaan Indonesia.

Namun apa yang terjadi belakangan ini malah kian melenceng jauh. Acara kumpul2 yang niatnya adalah syukuran tersebut hanyalah sebatas seremoni yang hanya berlangsung ketika sore saja. Jelang malam sedikit acara berubah jadi acara MINUM ARAK DAN ANGGUR. Fiuhhhhh…..

Gak usah jauh2 saya ambil contohnya ya di RT saya sendiri. Memang sih hanya segelintir orang saja yang bawa arak dan Bir.  Tapi kalau hanya untuk menemani orang mabuk dan ngoceh gak karuan seperti itu, gak ngumpul sama tetangga ya ndak masalah… saya lebih baik pulang dan buka laptop dan kerja. Ya ndak ?? Kalau acara ngumpul ngumpul dan begadangnya adalah secara sehat dan yang diobrolin adalah hal2 yang yang bersifat umum, mau begadang sampai pagi saya siap nimbrung. Tapi kalau ditemani minuman keras, mohon maáf bukannya munafik atau sok alim tapi saya lebih suka minum minuman keras sejenis es batu saja.

Ada kejadian lain yang tidak kalah melencengnya… yakni acara hiburan yang diadakan oleh lingkungan RT. Seperti kita tahu banyak juga lingkungan yang merayakan tujuh belas dengan acara panggung  gembira dan mendatangkan organ musik tunggal (elektune) ataupun orkes.

Elektun ataupun orkesanya seh ndak ada yang aneh. Yang aneh adalah jika para penyanyi dangdutnya yang norak busana dan jogetnya kemudian dibarengi dengan acara sawer menyawer sambil mabuk mabukan… hadoohhhhhh…..

Seperti inikah kita menysukuri dan merayakan hari kemerdekaan kita???

Beginikah kita membalas darah para pahlawan dengan air arak dan bir???

Jika yang demikian ini dianggap wajar… ya jangan mengeluh kalau sampai sekarang kita tidak pernah merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya!!

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *