Jelang Lebaran

0 Comment

Bener bener tidak terasa puasa sudah memasuki hari ke-25.

Artinya beberapa hari lagi kita sudah bisa merayakan Idul Fitri 🙂

Sekedar mengingat masa lalu, bahwa menurut saya pribadi lebaran sekarang tidak semeriah lebaran ketika saya masih anak anak.

Seingat saya dulu tidak pernah (semoga tidak salah) yang namanya penentuan 1 syawal berbeda antara penganut NU dan Muhammadiyah. Sehingga saya yang masih anak2 selalu enjoy dan sudah bisa memastikan hari apa dan tanggal berapa saya bisa pakai baju baru.

Dulu selepas ashar, ya sekitar jam 4 atau jam 5 sore lah… saya dan teman sebaya sudah pada rapi pakai baju baru. Kemudian di malam harinya, tepat di malam takbiran kita pasti berkeliling kampung untuk unjung-unjung mulai dari sabang kampung sampai merauke. Semua rumah kita datangi tanpa satupun terlewati.

Menjelang agak malam sedikit, kurang lebih ba;da Isya’ kaum orang kaum remaja bahkan juga termasuk yang sudah berkeluarga juga tidak mau ketinggalan. Mereka juga hilir mudik pada keluar semua untuk saling bersilaturahmi dan unjung2 pula seperti kami.

Kebetulan posisi rumah saya berada di perempatan jalan, Saya ingat betul dulu jalan di samping rumah saya ini penuh sesak persis seperti di expo, karena saking banyaknya orang yang unjung2…. wuihhh pokoknya super meriah dan seronookkkk (kata upin ipin).

Namun.. sayangnya adat atau kebiasaan warga kampung saya ini kian lama kian pudar lantaran para pemuka agama selalu memberikan ceramah bahwa adat semacam ini adalah salah.!? Para pemuka agama (saya enggan menyebut mereka ulama) menegaskan bahwa Idul Fitri harus diutamakan “HablumminAllah” baru kemudian “Hablumminannaass” Yang artinya ke Allah terlebih dulu baru kemudian ke sesama manusia. Harusnya di malam takbiran kita harus memperbanyak gema Takbir dan Tahmid, urusan unjung2 adalah setelah selesai Sholat I’éd.

Praktis sejak para pemuka agama getol berceramah soal itu setiap tahun, maka lambat laun lebaran di kampung ini makin sepi.

Alih2 meengumandangkan gema Takbir di masjid dan Mushollah di malam takbiran , Yang terjadi malah sebaliknya. Remaja lebih memilih keluar rumah dan keluar kampung menuju Masjid Agung di Pusat Kota untuk ikut takbir keliling sehingga kampung dan masjid malah jadi sepi. Di lain sisi takbir keliling di pusat kota malah tidak sesuai dengan tuuan yang sebenarnya. Takbir keliling hanya slogan dan nama saja, prakteknya adalah arak2an dan konvoi motor sambil bleyer2 gas dan lepas knalpot… hadehhh….

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *